Ilustrasi
Sumber: www.wisatabaliaga.com
Munculnya UU No. 6 tahun 2014 membawa perbincangan panas di kalangan masyarakat Bali. Bagaimana tidak, entitas yang sudah mendarah daging, desa pekraman sekarang akan dipertaruhkan demi kucuran dana APBN dan APBD. Seorang legislator asal Buleleng, bahkan secara tegas dan sumringah memaparkan perjuangannya untuk demi mengembalikan Bali dengan memilih Desa Pekraman.

Bali memang memiliki keunikan, bayangkan saja, ada dua desa yang menaungi masyarakat yang ada di didalamnya. Ada Desa Dinas yang mengurus segala sesuatu terkait dengan administrasi, kependudukan, pembangunan fisik, kesejahtraan masyarakat dll. Selain itu ada Desa Pekraman yang mengatur tentang hal-hal yang terkait dengan adat, buday adan keagamaan. Masyarakat bali tentu tidak bisa lepas dari kedua entitas ini, karena urusan administratif dan urusan adat-istiadat sudah menjadi bagian hidup masyrakat Bali. Munculnya Undang Undang Desa memberikan ruang yang begitu sempit pada masyarakat Bali, karena mereka dipaksa untuk memilih salah satunya sebagai desa yang harus didaftarkan ke pusat.  

Dalam sebuah media masa lokal, B*ali Post edisi Senin, 12 Januari 2014, K*ster mengambil satu halaman penuh, meskipun bukan di halaman utama, memaparkan alasan dibalik perjuangannya tersebut. Tidak ada yang salah dibalik pemaparannya, bahkan cenderung sebuah konsep visioner untuk menata Bali menjadi sebuah masyarakat yang kuat, tangguh, modern dan mapan secara ekonomi. Pasal per pasal coba dijelaskan dalam sebuah skema naratif dijabarkan dengan begitu lugas dan matang, seolah-olah semua itu sudah dirancang menjadi satu kesatuan artikel yang sangat persuasif. Apa motif di balik paparan yang begitu menggoda "iman" ini gerangan. Bagi saya motif di balik semua itu adalah tidak lain dan tidak bukan demi kepentingan Bali yang lebih baik.

Tentu sangat tidak etis, ketika saya menjiplak semua tulisan tersebut dan kemudian mengomentari satu persatu paragraf demi paragraf apa yang menjadi poko pikiran beliua. Selain itu pandangan yang sama juga muncul dari hampir semua senator Bali yang duduk di Senayan. Pasek S*ardika bahkan mengamini perjuangan K*ster sebagai bentuk penilaian persuasif lainnya. Apa dibalik motif pandangan beliu? Kembali lagi, itu semua adalah demi Bali yang lebih baik nantinya. 

Perbedaan pandangan tentu merupakan sebuah keniscayaan, bagaimana tidak, semua orang begitu tertarik untuk memberikan pandangannya karena mereka mencintai Bali dan entitas yang ada di dalamnya. Mereka bukan mengharapkan pangguang, melainkan sebuah dorongan yang kuat agar Bali ini tetap ajeg dan lestari, bahkan maju dan menjadi lebih baik. Saya sendiri menyukai konsep yang ditawarkan terkait pemilihan Desa Pekraman sebagai desa yang resmi untuk diajukan ke Pusat. Bagaimana tidak, jumlah Desa Pekraman yang ada di Bali ada sebanyak, 1.488 sedangkan jumlah Desa Dinas hanya sebanyak 716. Artinya jika setiap desa berhak mendapatkan dana sebesar 1 milyar, maka masyarakat Bali akan mendapatkan dana yang jauh lebih banyak dengan memilih Desa Pekraman. Namun apakah persoalannya sesederhana itu? 

Berbicara tentang Desa Pekraman, tentu harus dikaji secara lebih mendetail dan mendalam. Secara konstitusional, undang-undang desa ini masih menjadi perdebatan bagi saya. Bagaimana tidak, pasal-demi pasal dalam undang-undang ini masih menunjukan pertentangan. Pasal 26 menjelaskan bahwa Kepalasa Desa mendapatkan perlindungan hukum atas semua kebijakannya, tetapi pada pasal 30 dijelaskan Kepala Desa yang melakukan pelanggran akan mendapatkan sanksi dan pemberhentian dari Bupati atau walikota. Hal yang menarik lainnya adalah bahwa menurut pasal 109, pembentukan Desa Pekraman khususnya kelembagaan, pengisian jabatan dan masa jabatan ditetapkan oleh Perda Provinsi. Yang menarik dari pasal ini adalah, bahwa pasal ini tidak mencoba mengenalisa Desa Pekraman secara utuh. Desa Pekraman di Bali tidak semuanya sama, Desa Pekraman Bali Mula misalnya, mereka menerapkan sistem ulu ampad dalam pembentukan Kepala Desa (Kelian Desa/Kubayan Mucuk), bahkan prajuru desa semcam Penyarikan diangkat sekali dan bertugas semasa hidupnya. Apakah kemudian undang undang ini bisa mengakomodasi ketentuan lembaga desa pekraman ini. Apa yang digambarkan oleh K*ster dalam pemaparannya tentang konsep Desa Pekraman yang baru merupakan modifikasi yang jenius, tetapi hanya untuk desa pekraman baru yang terbentuk dengan sistem yang masih demokratis. Bagaimana dengan desa-desa tua yang sudah menerapkan sistem adat yang jauh lebih kuno tetapi tetap lestari sampai sekarang? Ini adalah sebuah bentuk penghianatan dan penghancuran nilai-nilai luhur budaya masyarakat Bali Mula.

Persolan lainnya adalah, ada banyak sekali desa pekraman yang memiliki krama (masyarakat) yang lintas Desa Dinas. Artinya sebuah Desa Pekraman terdiri dari beberapa Desa Dinas. Bahkan ada Desa Dinas yang terdiri dari dua desa pekraman dan lain sebagainya. Ini akan menjadi sebuah polemik, terkait dengan aset, sistem kependudukan, dan sistem kewilayahan. Sistem kewilayahan Desa Dinas jelas ditentukan dengan batas-batas administratif dan ini berbeda dengan batas-batas Desa Pekraman. Meskipun secara fungsi ada peleburan antara antara Desa Dinas dan Desa Pekraaman sehingga akan tetap ada fungsi kedinasan dan fungsi keadatan dalam Desa Pekaraman yang baru nantinya, tetap hal itu tidak bisa menjawab persoalan-persoalan yang sudah saya jabarkan di atas.

Harusnya senator kita bisa berkaca pada sejarah. Jika Soekarno pernah berkata, "Jangan Pernah Melupakan Sejarah", hal itu tepat adanya. Cobalah menlihat jauh ke belakang. Apa dan bagaimana Desa Pekraman itu terbentuk? Apa peran dan fungsinya? Dengan demikian akan terlihat secara jelas bahwa ada perbedaan yang jelas antara fungsi Desa Pekraman dan Desa Dinas. Paket Desa Pekraman yang ditawarkan dalam konsep desa yang baru juga meberi warna yang berbeda. Ini akan menghilangkan budaya dan adat-istiadat yang selama ini sudah dijalankan beratus-ratus tahun lamanya. 

Bukankah masih ada jalan lain yang bisa dilakukan oleh senator kita. Kali ini saya harus setuju dengan Pak Mangku Pastika bahwa, seharusnya senator dan legislator kita memiliki keberanian untuk memperjuangkan kekhususan bali. Daripada menghilangkan budaya yang sudah mendarah daging dengan sebuah konsep modern yang akan merampas budaya leluhur akan jauh lebih baik kalau bisa memperjuangkan Bali sebagai daerah Khusus Bali. Kekhususan ini adalah demi adat, budaya dan agama yang memang melekat pada masyarakat Bali. Jangan menjanjikan janji manis APBN dan APBD justru untuk menghapuskan budaya yang sudah mendarah daging ini, tapi jadikan semangat untuk memperbaiki bali dengan kekhususnan Bali itu sendiri.            
0
Peta Rencana Kawasan Konservasi Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau
Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Berau
Di sebuah rumah makan di jantung kota Kabupaten Berau, kami sudah ditunggu oleh teman-teman LSM pencinta kura-kura yang sangat concern dalam hal perlindungan habitat penyu di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau. Ada pertemuan yang memang sengaja kita rancang dengan WWF, LSM setempat dan juga pemerintah Kabupaten Berau untuk mengetahui secara lebih mendetail persoalan yang terjadi terkait dengan habitat penyu dan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah setempat untuk mengatasi persolan tersebut. 

Setibanya kami di Bandara Kalimarau, tak terlihat kesan sebuah objek wisata yang menawan. Selain bandara sederhana, kami hanya disuguhi pepohonan dengan tanah agak kecoklatan. Sepertinya tanah di wilayah ini agak dangkal, karena mudah sekali bangunan-bangunan terlihat kebanjiran. Pulau Borneo memang didominasi oleh tanah gambut, dengan komposisi air yang sangat banyak. Untuk mengabadikan  momen bersama, tidak lupa kami mengabil gambar bersama di depan Bandara Kalimarau ini. Inilah orang indonesia, tidak pernah bisa lepas dari yang namanya foto, entah mereka benar-benar menyukai dan mengahragai apa yang mereka lihat dan menganggapnya istimewa atau hanya sekedar agar terlihat pernah berada di tempat ini barangkali. Apapun itu saya tetap menyukainya, karena kebersamaan ini terasa begitu lekatnya. Sang surya terlihat bergitu malu-malu untuk menunjukan kewibawaannya, seolah-olah kami adalah pangeran dan putri raja yang harus terlindung dari sengatan energi yang ia keluarkan. 

Suasana Pertemuan dan Perbincangan dengan WWF, LSM, dan Pemerintah Kota Berau
Tak berselang dua jam kami sudah sampai di lokasi pertemuan, di sebuah rumah makan sederhana di pusat kota Kabupaten Berau kami mengundang LSM, WWF, dan Pemerintah Kabupaten Berau untuk berbagi cerita dan program perlindungan habitat penyu di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau. Sangat luar biasa pemaparan yang disampaikan oleh WWF dan LSM pecinta penyu ini. Mereka benar-benar memahami persoalan-persolan yang selama ini terjadi terkait dengan kerusakan habitat termasuk juga perburuaan penyu di Kepulauan Derawan. Pemerintah Kabupaten Berau sepertinya tidak begitu banyak program yang mereka lakukan untuk melindungi penyu yang sering mengujungi wilayah mereka. Program sederhana mereka adalah memetakan rencana zonasi perlindungan kawasan konservasi Kepulauan Derawan. Sisanya hal persoalan mendasar terkait kerusakan habitat penyu lebih banyak dilakukan oleh LSM. Mereka memahami betul nelayan adalah salah satu objek "perusaka" habitat dan pemburu penyu itu sendiri. Sehingga langkah-langkah perlindungan dan sosialisai menjadi prioritas program kerja yang mereka lakukan. Kombinasi adantara kebijakn makro pemerintah dalam memetakan kawasan konservasi dan pendekatan kekeluargaan yang dilakukan oleh LSM tampak begitu nyata dalam memecahkan persoalan penyu di Kabupaten Derawan. Langkah antisipasi juga mereka lakukan guna memberikan peluang kerja yang berbeda dan lebih menjanjikan tentunya dimasa mendatang. Strategi semacam ini ternyata sangat signifikan dalam pemulihan habitat penyu di Kepulauan Derawan. Pulau sanggalaki adalah salah satu pulau terbaik dan paling ramai dikunjungi penyu sempat kehilangan pesonanya akibat maraknya penjualan telur penyu yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Namun seiring dengan masuknya program-program dari berbagai stakeholder ini, kini Pulau Sanggalaki kembali menjadi pulau favorite bagi penyu untuk menelurkan calon-calon petualang lautan di masa yang akan datang.

Untuk mencapai Kepulauan Derawan, perjalanan panjang harus kami lakukan untuk mencapai Pelabuhan Tanjung Batu. Ini adalah satu-satunya pelabuhan yang akan menyeberang menuju Kepulauan Derawan. Dalam bayangan kami perjalanan Kota Berau menuju Pelabuhan Tanjung Batu akan menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan, tetapi nyatanya ini adalah sebuah perjalanan paling ekstrim yang pernah kami lalui. Sebetulnya tidak ada medan yang cukup menantang dalam perjalanan ini. Suasana disekitar jalan yang hanya ditumbuhi pepohonan bekas tambang dan cara driver kami mengemudikan kendaraanlah yang menjadikan perjalanan ini begitu ekstrim. Bayangkan saja, hampir tidak pernah kendaraan kami melaju dengan kecepatan di bawah 80 km/jam. Bahkan dengan kecepatan yang begitu tingginya si sopir bahkan tidak pernah mendengarkan keluh kesah kami yang berada di belakangnya. Hampir beberapa kali, teman saya yang berada dibagian belakang harus menghantamkan kepalanya ke langit-langit mobil avanza yang dikendarainya. Oh my GOD, mungkin seperti inilah petualangan ke ujung dunia. 

Ditengah kegalauan dan kegundahan hati dan adrenalin, kami dikagetkan dengan aroma yang begitu familiar. Sebuah aroma yang mendamaikan hati dan pikiran. Seolah-olah semua beban dan persoalan dibawa lari dari tubuh ini. Sebuah aroma laut!!! Setelah perjalan yang begitu melelahkan kami sampai pada sebuah ujung perjalan maut. Tidak terasa beberapa teman bahkan tidak mampu menahan gemuruh perut pertanda ketidak seimbangan sistem syaraf yang dikeluarkan dalam bentuk muntahan. Untuk saja saya tidak berada di bagian kursi penumpang paling belakang, mungkin saya akan mengalami hal yang sama jika berada pada posisinya. 

Sejujurnya, saya sempat kecewa ketika sampai di pelabuhan ini. Rasanya pelabuhan-pelabuhan di bali bahkan jauh lebih baik dari ini. Pelabuhan ferry di Padang Bay, bahkan masih terlihat pasir putihnya, yang menunjukan dirinya sebagai tempat wisata yang berkelas. Pelabuhan Tanjung Batu ini justru memperlihatkan kelas yang berbeda, ini lebih tampak sebagai pelabuhan nelayan dengan pantai yang berlumpur tanpa adanya hamparan pasir. Di tengah laut bahkan tampak begitu banyak rumah kapal nelayan. Sepertinya penduduk lokal disini suka hidup di laut dengan berpenghasilan dari hasil melaut. Sejenak waktu kami manfaatkan untuk melegakan tenggorokan dan pikiran dengan secangkir arabika pekat. Sedikit obrolan tercipta dengan penduduk lokal. Ternyata ada yang menarik dari penduduk yang menempati wilayah ini. Kepulauan Derawan sebagai salah satu bagian dari Kabupaten Berau ini di dominasi oleh Suka Bajau (Suku asli dari Kepulauan Philifina Selatan) dan Suku Bugis (Suku asli Sulawesi). Menariknya adalah kedua suku ini seolah-olah memiliki perannya masing-masing. Suku Bajau lebih suka hidup di laut dan Suku Bugis lebih suka hidup di darat. Artinya hampir semua masyarkat yang hidup di sini dan mengantungkan hidup dari hasil melaut adalah Suku Bajau, sedangkan masyarakat yang hidup di daratan dan hidup dari ekonomi di darat Kepulauan Derawan adalah Suku Bugis.

Suasana di dalam Perahu, Pelabuhan Tanjung Batu, Kabupaten Berau
Perjalanan darat yang begitu ekstrim sudah kami lakukan dengan selamat, akhirnya perjalan laut kami lakukan dengan penuh pesona. Matahari yang begitu malu-malu akhirnya benar-benar tidak menampakan diri. Kegagahannya tertutup oleh barisan awan yang begitu riangnya menjelajah bahkan sampai ke Pulau Derawan. Tujuan kami selanjutnya adalah Pulau Derawan. Disinilah satu-satunya pulau di Kepulauan Derawan ini yang masih berpenghuni. Artinya disinilah kami akan menginap untuk malam ini, karena hanya di pulau ini, akomodasi masih tersedia. Arloji saya sudah menunjukan jam 4 sore, perjalan laut yang kami lakukan sudah memakan waktu hampir setengah jam. Sejujurnya tidak banyak hal yang bisa kami lihat karena yang tampak hanya laut dan satu pulau yang menjadi tujuan kami. Dan sampailah kami pada tujuan akhir perjalan di hari ini, Pulau Derawan. 

Salah Satu Dermaga Yang Terhubung DPenginapan, Pulau Derawan, Kabupaten Berau
   
Salah Satu Sudut Pantai di Pulau Derawan, Kabupaten Berau

Gerbang Masuk ke Pulau Derawan, Pulau Derawan, Kabupaten Berau

Salah Satu Perjuangan Untuk Mendapatkan Kamar Terbaik, Pulau Derawan, Kabupaten Berau
Sesampainya di Pualau Derawan. Hal pertama yang kami lakukan adalah foto-foto tentunya. Tidak lupa kami menyiapkan diri untuk maen pasir dan maen air. Meskipun tidak ada sunset yang bisa disaksikan, berhubung matahari sedang malu menunjukan dirinya, maka kami hanya bisa menikmati pasir, laut dan kombinasinya dengan awan yang kelabu. Meskipun sedikit menyeramkan, kami masih bisa menikmati pantai yang begitu indahnya. Salah satu pose terbaik yang sempat kami lakukaan adalah lomba menyelam ala ikan paus. 

Lomba Nyelam Gaya Ikan Paus, di Pantai Pulau Derawan, Kabupaten Berau
1
Pulau Derawan
Tanggal 12-15 Mei 2014 menjadi salah satu hari yang paling menyenangkan dalam dunia traveling yang sering saya lakukan. Bagaimana tidak, perjalanan yang biasanya saya lakukan di dalam sebuah pulau kecil yang lebih dinela sebagai Pulau Seribu Pura ini, kini mendapatkan kesepatan untuk menyeberang ke pulau lainnya. Bukan sebuah pulau kecil lainnya, melainkan melompati berbagai pulau dan bahkan termasuk ke dalam pulau terbesar di Indonesia. Saya dan teman-teman aktivis lingkungan akan melakukan perjalan 3 hari 4 malam ke Pualau Borneo, tetaptnya ke sebuah pulau kecil tempat singganya Kura-Kura dari seluruh penjuru dunia untuk sekedar bertelur, Pulau Sangalaki di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Obrolan sebelum berangkat
Pagi, sekitar jam 9 kita berangkat dari Kampus Udayana Sudirman menuju Bandara Ngurah Ray di Kabupaten Badung. Karena perjalanan yang cukup panjang, yaitu dari Bandara Internasional Ngurah Ray menuju Bandara Internasional Sepinggan di Balikpapan, kita menyempatkan menyeruput sebotol air kehidupan dan sebungkus nasi khas bali, ayam betutu.

Jarak Bandara Ngurah Ray dan Sepinggan
Sekitar jam 11, kita sudah menaiki pesawat Garuda dengan suasana yang sangat nyaman. Perjalanan dari Bandara Ngurah Ray menuju Bandara Sepinggan memakan waktu sekitar 2 jam. Namun demikian, perjalanan yang sangat menyenangkan membaurkan kami dalam kenikmatan liburan. Tidak terasa hamparan laut yang begitu luas sudah menunjukan ujungnya, tampak hamparan luas berwarna hitam kecoklatan berbaur dengan birunya lautan Selat Makasar, kita sudah sampai di Bandara Internasional Sepinggan yang kabarnya baru selesai di perbaiki. Sebuah keberuntungan bisa melihat Bandara seluas dan sabgus ini di Indonesia.

Salah satu sudut di Bandara Sepinggan
Cukup lama kita berada di Bandara ini, bagamana tidak suasana yang begitu nyaman, dengan hiasan dan dekorasi alam dan buatan yang sangat mempesona membuat kita lupa waktu. Tour guide sampai harus kewalahan mengarahkan kami menuju bus untuk perjalanan selanjutnya. Tidak lama, kami sudah melanjutkan perjalanan menuju Pasar Kebun Sayur. Aneh memang, kenapa ke Kebun Sayur, apa yang mau dicari dari sebuah kebun sayur?

Pasar Kebun Sayur, Balikpapan
Pasr Kebun Sayur, adalah pasar oleh-oleh khas kalimantan.. Di pasar ini dijual berbagai jenis hasil kesenian, hasil tambang (batu permata) dan juga berbagai jenis makanan. Meskipun tidak sebagus pasar seni yang ada di Bali, saya cukup antusias melihat macam-macam produk yang ditawarkan di pasar ini. Bahkan kawan-kawan saya harus memborong berbagai jenis makanan khas kalimantan untuk di bawa pulang ke Bali nantinya. Teman yang lain bahkan begitu antusiasnya memborong berbagai jenis batu permata. Saya sendiri tidak begitu pahan dengan berbagai jenis batu permata, sehingga hanya makanan dan jenis kerajinan yang menjadi daya tarik buat saya. Sekitar 2 jam lamanya kami berkeliling pasar ini, dan sepertinya sudah cukup banyak oleh-oleh yang kita beli untuk di bawa pulang nanti.

Perjalan berlanjut dengan sedikit perkenalan Kota Balikpapan, sebuah kota jasa yang menawarkan kenyamanan bagi para pelancong yang ingin menikmati Kalimantan. Kota Balikpapan bukanlah kota yang kaya. Tidak seperti tempat lainnya di Kalimantan, tidak ada hasil tambang yang bisa dinikmati Kota ini. Itulah kenapa kota ini berubah menjadi Kota Jasa. Sebuah strategi yang luar biasa dapat meningkatkan pendapatan asli daerah tentunya.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke hotel, terlebih dahulu kita menikmati hidangan disebuah rumah makan, bukan khas kalimantan memang, karena menu yang dihidangkan adalah menu biasa yang sudah sering kita makan. Tidak ada yang istimewa memang dari makan malam ini. Ditengah asiknya menikmati kudapan malam ini tiba-tiba kita dikagetkan dengan acara kejutan yang diadakan oleh seorang teman kepada seorang dosen. Ternyata hari ini adalah ulang tahunnya Pak Wayan Nuarsa. Sungguh sebuah kade yang istimewa, ditengah menikmati liburan beliu mendapatkan kejutan yang sangat mendadak. Sebuah tiupan lilin mengiringi doa yang dipanjatkan dihari ulang tahun beliu, doa ini berlanjut ke sebuah Pura.

Pura Giri Jaya Natha, Balikpapan
Persembahyangan bersama kami lanjutkan ke Pura Giri Jaya Natha, satu-satunya pura yang ada di Balikpapan. Menurut Jero Mangku pengempon pura tersebut pura ini sudah berdiri sejak tahun 2008. Ini adalah hasil sumbangan dan gotong royong masyarakat hindu yang ada di Balikpapan. Kami merasa sangat senang dan bangga bisa melakukan persembahyangan di Pura ini. Hati, pikiran dan jiwa ini terasa begitu teduh setelah melakukan persembahyangan. Kamipun siap untuk melakukan aktfitas lainnya, yaitu menuju hotel dan beristirahat tentunya.

Suasana Kamar Tidur
Perjalanan akan kami lanjutkan menuju Kabupaten Berau di pagi hari. Sekitar jam 5 pagi kami sudah bangun dan bersiap untuk perjalanan selanjutnya. Jam 6 pagi kami sudah check in di Bandara Internasional Sepinggan dan bersiap melakukan perjalan udara dengan Garuda Indonesia. Sekali lagi sebuah pemandangan menakjubkan kami nikmati selama perjalan satu jam menuju Bandara Kalimarau di Kabupaten Berau. Ada pemandangan unik, dimana sejauh mata memandang yang terlihat adalah hamparan hijau tanpa ada satupun perbukitan.

Suasana di Landasan Bandara Kalimarau, Berau
0
http://vilvatica.blogspot.com/2013/02/kuta-beach.html
Pantai Kuta
Keindahan Pantai Kuta memang sangat mempesona, bagaimana tidak salah satu tujuan wisata paling digemari di bali adalah Pantai Kuta. Meskipun pemerintah Kabupaten Badung ataupun Provinsi Bali belum pernah melakukan pendataan pasti terkait dengan jumlah kunjungan yang masuk ke Objek Wisata ini, karena memang Pantai Kuta dan pantai-pantai lain di Bali tidak mengenakan retribusi untuk masuk ke Objek Wisata tersebut. Namun dengan melihat berjubelnya wisatawan baik asing maupun lokal yang selalu memadati objek wisata ini, dapat dipastikan Pantai Kuta masih menjadi salah satu primadona di Bali. Bahkan sudah menjadi sebuah kebiasaan kalau ada teman yang jalan-jalan ke Bali selalu minta diajak ke Pantai Kuta. Ya memang sepertinya diluar sana Pantai Kuta begitu mempesona bukan karena pantainya yang bagus, tapi karena namanya sudah begitu terkenalnya, sehingga setiap orang yang liburan ke Bali belum lengkap rasanya jika belum berkunjung ke Objek Wisata yang satu ini.

Kemarin sore saya diajak ketemu oleh teman lama dari Jakarta, kebetulan dia sedang ada tugas untuk penelitian di Bali, sorenya dia ada sedikit waktu luang dan ingin menikmati sedikit waktu luangnya untuk menikmati suasana Bali yang sesunggunya. Hal pertama yang dia minta adalah mengantarkannya ke Pantai Kuta. Ya seperti biasanya, teman saya begitu "mempercayai" pantai ini.

Jam 5 sore kita berangkat dari Hotel tempatnya menginap, di kawasan Sanur. Jalur yang kita gunakan tidak melalaui jalur yang paling pendek karena dia ingin melihat kemegahan Tol Bali Mandara yang dibangun di atas perairan Teluk Benoa. Sekitar jam setengah 6 kita sudah sampau di Parkir C*ntro, salah satu Mall terbesar di Kawasan Pantai Kuta ini. Tidak lama bersiap kita langsung menuju pantai Kuta. Dia sedikit tercengang melihat bagaimana keadaan pantai yang sepertinya jauh dari apa yang dibayangkannya. Tidak dipungkiri suasana laut yang dikombinasikan dengan angin dan langit yang begitu cerah memberikan suasana pantai yang begitu mempesona. Desiran angin, ombak, dan hamparan pasir putih begitu memanjakan mata dan membuatnya begitu malas untuk berkedip, seolah-olah setiap kedipan akan menghempaskan semua keindahan ini pada suatu kehampaan.

Salah satu sudut keindahan Pantai Kuta
Sampah berserakan dimana-mana seolah-olah memberikan kesan betapa amburadulnya manajemen pemerintah daerah dalam mengelola sebuah objek wisata ini. Bagamana bisa objek yang begitu terkenal, begitu mempesona dan tentunya objek yang begitu "sexy" untuk menghasilkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) bisa terlantar seperti ini. Seperti tidak berlebihan jika ada media asing yang bahkan mengatakan Pantai Kuta sebagai surga yang hilang.

Sampah berserakan di Pantai Kuta
Ingin sekali rasanya melihat sebuah ekspresi kecewa dan ketidakpuasan di raut muka teman saya itu. Sayangnya, justru tidak terlihat sebuah kekecewaan, melainkan sebuah expresi bergairah, sebuah expresi exploratif. Ternyata penelitiannya ke Bali terkait dengan penanganan masalah persampahan yang ada di Bali. Dengan begitu bergairahnya dia mengambil sudut demi sudut panatai untuk mengeksplorasi lebih jauh bagaimana kotornya pantai ini. Pada sebuah titik kami bahkan menemukan sebuah tabung gas LPG yang dikerubungi berbagai jenis sampah lainnya.  

Sebuah tabung gas LPG di salah satu sudut Pantai Kuta
Meskipun ada begitu banyak sampah yang mengiasi pasir putih pantai Kuta, sepertinya wisatawan yang datang kesini tidak mau ambil pusing. Mereka tetap saja menikmati suasana pantai ini dengan berbagai aktifitas mereka, ada yang menikmati pantai dengan bermain bola, ada juga yang menikmati deburan ombak untuk berselancar, ada juga yang hanya duduk duduk sambil menikmati suasana pantai ditemani alunan musik para seniman yang menjajakan suara merdu mereka. Sebuah pemikiran sederhana muncul secara tiba-tiba dibalik berbagai suasana hati yang ada di pantai ini. Sebuah pantai yang katanya dahulu kala (sekitar tahun 70an) begitu indah, pasir putih menghiasi hampir sepanjang mata memandang, ditepian pantai angin akan berirama dengan lambaian dauh kelapa yang berjejer laksana pasukan perang yang sedang bersiap untuk meluncurkan senjata terbaik mereka. Ombak yang begitu kencangnya bersiap menghempaskan kekuatan terbesar mereka pada serpihan pasir putih yang dengan gagah sudah menunggu. Sang kala yang bersinar terarng sudah bersiap ke dalam peraduannya dan iringin irama alam semakin menguatkan dirinya untuk semakin bergema. Jika dulu tidak ada manusia yang tertarik dengan suasana tersebut, kini ribuan bahkan mungkin jutaan orang sangat tertarik untuk melihat dan merasakannya, tetapi sebaliknya dahulu orang tidak tertarik namun tetap menghargai alam layaknya kehidupan mereka sendiri, sekarang mereka ingin menikmati alam justru dengan merusaknya.

Sekitar jam 7 malam, sang kala sudah tidak terlihat di ufuk barat, bayangan cahaya kuning masih terlihat samar menunjukan sebuah geliat warna yang begitu menarik. Pemandangan tampak berbeda, pantai yang tadinya begitu tampak kotor sudah terlihat berbeda, goresan-goresan pasir bagai sebuah lukisan tangan abstrak menghiasi hampir seluruh hamparan pasir dan sisanya sudah tersapu air laut yang mulai pasang. Sungguh sebuah antiklimaks, tadinya saya berharap melihat ketidak pedulian dan pencarian kambing hitam. Tetapi itu justru sirna, karena semua sampah yang tadinya berjubel telah hilang, bahkan tumpukan sampah yang sudah terkumpul dan juga sebuah tabung gas LPG sudah tidak tampak. Desarin angin yang makin menguat menunjukan waktu yang semakin larut dan sampailah saya pada sebuah kesimpulan. Sampah ini terlalu banyak, bahkan mereka datang terlalu cepat, pemerintah tidak bisa membersihkannya setiap saat, mereka bertanggung jawab terhadap kebersihan namun sayangnya mereka tidak bisa melakukannya setiap menit.

Sebuah pertanyaan besar muncul ketika saya mencoba merenungkan persoalan sederhana ini. Sampah ini adalah sampah kiriman,bukan dari mana-mana, melainkan dari Kota Denpasar dan kawasan hulunya. Sampah ini terbawa sungai menuju laut kemudian dihempaskan oleh gelombang dan terkumpul di Pantai Kuta. Pemerintah harusnya perfikir dan bersikap lebih holistik dalam mengelola sampah mereka, tidak cukup hanya denganmembersihkan dan mengumpulkan sampah pada tempatnya, karena pada akhirnya sampah itu akan terus berdatangan. Pemerintah harus mulai berpikir, bagaimana caranya sampah tidak masuk ke sungai, tidak masuk ke laut, dan tidak keluar dari tempat sampah, TPS, ataupun TPA, karena memang disanalah harusnya sampah berada.
1

Seminggu yang lalu saya berbincang dengan teman yang kebetulan bekerja di BKD Provinsi Bali, pembicaraannya terkait dengan akan dibukanya beberapa formasi CPNS untuk tahun 2014. Kira-kira tesnya akan dilakukan di bulan Agustus. Sistem tes untuk tahun ini juga sudah berbeda, karena tes akan dilakukan dengan menggunakan sistem CAT (Computer Assisted Tes) yang akan dilakukan di BKN Jalan Sunset Road. Saya sendiri sempat mengikuti simulasi tes dengan sistem CAT ini dan ternyata memang dari tingkat kesulitan, tes ini jauh lebih susah daripada tes tes pada umumnya, selain itu sistem ini susun sebegitu canggih sehingga kecurangan hampir tidak bisa terjadi pada tes sistem ini. 

Akhirnya sebuah sistem recruitment yang bersih bisa dilakukan juga, itulah komentar saya ketika mengikuti simulasi sekaligus seminar "Recruitment CPNS berbasis CAT". Dari seminar tersebut saya bisa menyimpulakan bahwa sistem kecurangan yang terjadi sangat minim, kenapa? 

Sistem penerimaan CPNS dibagi menjadi tiga tahap, yaitu 1) tes administrasi, yang berupa pengumpulan berkas-berkas pelamar. Pada tahap ini tentu kecurangan sangat minim, karena aturan mainnya sudah sangat jelas. Yang tidak lulus pada tahap ini kemungkinan hanya pelamar yang berkasnya tidak lengkap, itupun kalau belum lengkap tidak akan diterima berkasnya, yang artinya pelamar akan tetap melengkapi berkas dan pelamar terhindar dari ketidak lulusan, atau karena IPK pelamar di bawah 2,75. Tentu dengan IPK dibawah 2,75 pelamar akan tidak lulus, karena persyaratan untuk ikut CPNS adalah 2.75 untuk PTN dan 3.00 untuk PTS. Tahap kedua adalah Tes Kemampuan Umum (TKU), ini adalah tes yang biasanya dilakukan serentak dengan  meminjam sekolah sekolah untuk pelaksanaan tes. Di tahun ini sistem tes TKU dilakukan dengan menggunakan CAT, yang artinya sistem akan dibuat setransparan mungkin dan sebersih mungkin. Kalau pelamar tidak lulus pada tahap ini, berarti pelamar memang tidak layak untuk jadi CPNS. Nah tes yang terkahir adalah Tes Kemampuan Bidang (TKB), tes ini dilakukan oleh instansi masing-masing sesuai dengan bidang si pelamar. Karena tes ini tidak menggunakan sistem CAT, kecurangan pada tahap ini masih dimungkinakan, tetapi sangat kecil sekali. Selain itu TKB ini juga sifatnya tentatif. Jadi tidak semua bagian kepegawain menggunakan TKB. 

Dari proses tersebut dapat disimpulkan bahwa, BKD sudah melakukan terobosan besar dengan menggunakan sistem CAT ini. Lanjut ke cerita awalnya, saya mengikuti seminar dan simulasi CAT, dan ternyata saya mendapatkan nilai terbesar dalam tes tersebut. Wah seneng juga, bisa mendapatkan nilai terbesar, semoga saja nanti pas tes dapat nilai terbesar juga. Hehehe

Nilai besar ini juga berkah tersendiri buat saya, karena saya mendapatkan hadiah berupa buku panduan CAT dan softcopy soal-soal CPNS. Senang bukan kepalang karena saya bisa belajar lebih banyak soal-soal CPSN untuk tes CAT nantinya. Tetapi saya juga bukan orang yang congkak, karena itu saya juga memberikan soal-soal ini kepada teman-teman saya yang tertarik untuk ikut tes CPSN agar mereka juga punya kesempatan untuk belajar. Bagi yang tertarik untuk mengikuti tes CPNS, anda bisa downlaod contoh soalnya pada link berikut:

E-book I - Latihan Soal CPNS 1:
Modul 1 - Bahasa Indonesia 
Modul 2 - Pengetahuan Umum 
Modul 3 - Tes Bakat Skolastik 

E-book II - Latihan Soal CPNS 2: 
Modul 1 - Bahasa Indonesia 
Modul 2 - Bahasa Inggris 
Modul 3 - Kebijakan Pemerintah 
Modul 4 - Tata Negara 
Modul 4 - Tata Negara

E-book III - Latihan Soal CPNS 3:
Modul 1 - Ketatanegaraan
Modul 2 - Pengetahuan Umum
Modul 3 - TPA

E-book IV - Latihan Soal CPNS 4:
Modul 1 - UUD 1945


1

Tri Hita Karana is a local value into a philosophy of life. In real terms, this concept developed and made in Bali, but did not realize it was eastern people lives of philosophy. However, there are two fundamental questions when talking about the Tri Hita Karana, they are:

1. What will happen to mankind if equilibrium is reached or when otherwise could not be realized? 

2. How is the application of that philosophy in the community in Bali?

Tri Hita Karana is basically a universal concept, sourced from a variety of Hindu sacred literature. This concept was later developed into a philosophy of life in the joints of Balinese life. In the Babad Bali mentioned that, the term Tri Hita Karana first appeared on November 11, 1966, but in practice this concept has become part of life in which the activity of Balinese life long before that year. Tri Hita Karana is defined as the three causes of goodness, the livelihoods, or the happiness that comes from three harmonious relationships between man and the Almighty God, between human beings, and between humans and nature and other living organisms (AAG Raka Dalem, 2007). By looking at the definition, it is clear that the balance of the relationship between man and God, among humans, and humans with the natural environment is a form of happiness and the livelihoods of the human race.

Harmonious relationship between man and God is the manifestation of the sacred relationship between man and God. The embodiments of this harmonious relationship done by creating a place of worship, worship, and do Yadnya. Harmonious relationships with God not merely as manifestation of belief but also as form of gratitude to all the grace that has been given. Thus, we will always feel peaceful and happy in life with a variety of activities in his drawing this.

Harmonious relationship with fellow human beings is a manifestation of the human need for social interaction is good to ease the process of human life itself. The complexity of harmonious relation between the members has very large dimensions and depth. The form of this relationship is not only limited to establishing a good relationship among humans, but much more than that. Harmonious relationship among humans is manifested in a variety of activities in the joints of social life and social good of the smallest sphere (family) to a very large scope (national and state). Good ethical, mutual understanding and tolerance, accept any difference as a whole, mutual assistance, and even a form of communicating ethical way to establish a harmonious relationship among humans.

Harmonious relationship between man and his environment is a manifestation of the human need to get a good treatment of the environment (clean environment, clean water, clean air, the environment provides a variety of resources, including the safe environment of a disaster). To get a balance, what is gained must be balanced with what is done. So to get a good treatment of nature, human nature must treat well too. Environments are appropriately considered as a resource that can be utilized to make ends meet. However, the environment / nature also have its limitations. So the use of the environment / nature has its limitations should not be exceeded. Form a harmonious relationship between humans and the environment is not utilize / exploit nature in excess, preserving the environment which has a vital role and function for the balance of nature (protected areas and conservation), keep the good parts of the environment and the role that serves small to vital to life.

What would happen if a balance is reached in the third relationship?

By looking at the definition of Tri Hita Karana, clearly can be interpreted that the happiness, the livelihoods and goodness gained by achieving a balance in the relationship with God, with others and with the environment. Harmonious relationship with the Lord, will provide inner happiness through gratitude. Harmonious relationship between human beings and the livelihoods will give happiness, because of course the harmonious relationship between human beings there will be no social conflict, etc. Then harmonious relationships would be more complete sense of happiness and the livelihoods that, because of the harmonious relationship with the environment, we would be treated well by nature as to get clean air, clean water, a clean and beautiful environment, etc.

What would happen if the balance was not achieved?

If the balance is not achieved, then the happiness will not be complete. Harmonious relationship with God, without the harmonious relationship with the environment is not going to make us get good treatment of the environment. So there are other important parts that we did not earn.

Tri Hita Karana concept is gaining in popularity and become a Hindu icon in arranging the joints of people's lives since the past few decades, there is already exist since the Hindu civilization. In fact, in the days of the Majapahit Tri Hita Karana has become one of the pillars of the eighteen secrets of success of the archipelago Gajah Mada leader at that time. Gajah Mada teachings include the concept of Tri Hita discourse to be followed by the leaders of Majapahit to reach his goal to unite the archipelago. The concept of Tri Hita discourse formulated by Gajah Mada, now grown and on their own Bali is known as Tri Hita Karana is a doctrine of harmony and balance in managing to remains Hindus especially in Bali (Suhardana, 2008: 77) .

The three causes of happiness are then translated into the human relationship with God, relationships with fellow human beings, and the human relationship with the environment. Furthermore, the third harmonic relationship is believed to bring happiness in this life, in which the Hindu community terminalogi realized in three elements, namely: parahyangan, pawongan, and palemahan.

  • Parahyangan a mecca every man for himself closer to the Creator, which is realized in the form of the holy places, worship, and yadnya. 
  • Pawongan is a reflection of that man cannot live alone without together with other human beings (as social beings). 
  • While palemahan is a form of human consciousness that humans live and thrive in nature, even a part of nature itself.

Application of Tri Hita Karana by Balinese people has actually been implemented on any joints of their lives. Even before the concept was invented, they've run this concept as a philosophy of life (living filosophy) that must be done. Even before the Majapahit go to Bali this concept is embedded in the joints of Balinese life. Before Majapahit went to Bali, Balinese people are familiar Subak system, which means that the concept of Tri Hita Karana is embedded in every activity of their lives. When viewed more broadly and deeply, Tri Hita Karana is a philosophy of life that is very universal and inherent in every human activity itself. Man's relationship with man, for example, is a harmonious relationship between man and man is not limited to establishing a good relationship between fellow human being, but much more in relation to how it is formed in relation to any interaction between man and man, how every human being with other human ethical, how human respect other human, how humans treat other humans, how human work together, and so on. So clear how the Tri Hita Karana is not just a simple concept, but it has become a philosophy of life to achieve peace and livelihoods of Life.

The rapid development of Bali island is like a coin which always has two different sides. On one side of this development have a positive impact on the economic livelihoods of the people of Bali, but on the other hand actually occurred degradation values of Tri Hita Karana. The development of the tourism sector, for example, has shifted the harmonious relationship between humans and the environment. Economic factors have become the most dominant part in public life and shifting environmental values and humanity. Not only the actual tourism sector, a variety of other activities that are always associated with economic interests have undermined the values of Tri Hita Karana of Balinese in the public mindset.

Damage to protected forests (which serves vital to provide protection against other regions and to maintain the balance of nature) in the Bali Barat National Park, land conversion and conservation of protected areas into cultivation area almost in every district, mining (excavation C) occurring large-magnitude in Kintamani and Karangasem, polluted rivers and lakes, erosion and landslides is evidence of how man began to forget how to create a harmonious relationship with the environment. So the environment / nature will do the balance with rainfall patterns begin to irregular, water crisis, floods and landslides, drought etc.

Social conflict is not even a lot less than the damage to the environment / nature happens. Man's relationship with humans has begun to lose harmonious, interest groups already relieving tolerant and respectful in the joints of Balinese life. Setra fight conflicts occur in various places in Bali, conflicts between organizations, Pekraman inter-village conflicts, etc. is evidence of the Balinese people have started to lose the values of Tri Hita Karana in harmonious relationships with fellow human beings.

Even man's relationship with God has begun to reveal disharmony. The sanctity of the relationship between man and God had not considered as a source of happiness. Theft pretima who recently indicated that a lot happens, instruments Godhead has not appreciated and forgotten.

However, the above does not show indications of degradation of the value of Tri Hita Karana Bali on society in general. The values of Tri Hita Karana is still widely implemented in various joints Balinese life. Penglipuran for example, the values of Tri Hita Karana is still held up as a living filosophy that must be implemented to achieve the livelihoods. Harmonious relationship with God, with fellow human beings, and the environment is well maintained. Implementation of the concept of Tri Hita Karana is then used as a concept urniversal for various interests and purposes. Local wisdom is then adopted in a variety of spatial planning, sectoral planning, and even the concept of tourism management, to create balance, harmony and alignment. Development of tourist villages, for example, Tri Hita Karana should be an important part in it not only as a concept of sustainable tourism, but also reinforce the Tri Hita Karana philosophy of life as people who are in it.

0
Previous PostPosting Lama Beranda